Warga berfoto dengan latar belakang gedung bertingkat di Jakarta, Rabu (30/4/2025). Deputi Neraca dan Analisis Statistik (NAS) BPS, Moh.
Edy Mahmud, menjelaskan perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.741 triliun, sementara berdasarkan harga konstan mencapai Rp 3.633,2 triliun. "Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen," kata Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Kamis (5/11).
Konsumsi masyarakat masih terjaga yang terlihat dari pertumbuhan sektor makanan dan minuman, akomodasi, serta barang dan jasa lainnya. Surplus neraca perdagangan juga tetap berlanjut di tengah ketidakpastian global.
Sebelum itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara optimistis perekonomian Indonesia tetap tumbuh kuat sepanjang 2026, meskipun dihadapkan pada tekanan ekonomi global akibat eskalasi konflik geopolitik dan kebijakan moneter ketat di sejumlah negara maju. Suahasil memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4-5,5 persen secara tahunan (yoy).
Optimisme tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif. Sementara, sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 melambat dibandingkan realisasi kuartal sebelum itu.
Konsumsi rumah tangga yang belum pulih merata serta tingginya kebutuhan impor menjadi sejumlah faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,23 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal III 2026.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen.


















