Pasokan sepeda motor tua atau jadul kini semakin sulit didapatkan oleh para pelaku usaha jual beli kendaraan antik. Kelangkaan unit di pasaran terjadi seiring meningkatnya kesadaran para pemilik kendaraan mengenai harga dan nilai historis dari koleksi yang mereka miliki. Kondisi ini membuat para pedagang harus bekerja ekstra keras untuk menambah inventaris dagangan mereka di tengah dinamika pasar kendaraan bekas.
Tantangan tersebut dialami oleh Totok, seorang pemilik Galeri Motor Jadul yang berlokasi di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Ia mengungkapkan bahwa perburuan kendaraan roda dua berusia tua saat ini menghadapi hambatan besar. Jaringan pencari barang yang berada di daerah-daerah kini kesulitan memperoleh unit kendaraan karena ketersediaan di tingkat pemilik semakin terbatas serta harga penawaran dari pemilik awal yang kian tinggi.
Situasi saat ini sangat berbeda dibandingkan ketika ia pertama kali memulai usahanya pada sekitar tahun 2016. Pada masa awal beroperasi, ia mampu memboyong hingga dua truk pasokan motor dalam sekali belanja, di mana satu truk dapat memuat 15 hingga 20 unit kendaraan. Kini, menaikkan harga penawaran pun tidak selalu berhasil meluluhkan pemilik kendaraan. Sebagai gambaran kenaikan harga, jenis sepeda motor Yamaha V80 yang dahulu biasa dibeli pada kisaran harga Rp1,8 juta hingga Rp2 juta, saat ini harganya telah melonjak menjadi kisaran Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per unit.
Untuk menjaga ketersediaan barang dagangan, Totok mengandalkan jaringan pencari pasokan yang tersebar di wilayah Jawa Tengah. Langkah antisipasi yang dilakukannya sejak awal dengan mengumpulkan kendaraan terbukti menjadi kunci keberlangsungan bisnisnya. Saat ini, galerinya mengoleksi sekitar 215 unit sepeda motor dari berbagai pabrikan dengan tahun produksi berkisar antara tahun 1941 hingga era 1990-an. Keputusannya mengalokasikan modal untuk membeli kendaraan antik dipandang sebagai bentuk investasi yang bernilai tinggi ketimbang menyimpan dana di lembaga perbankan.
Meski sempat menikmati peningkatan bisnis dengan omzet penjualan mencapai Rp175 juta per bulan pada masa pandemi Covid-19, kini kondisi pasar sepeda motor klasik mengalami penurunan yang cukup signifikan. Lesunya kondisi perekonomian turut mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap barang hobi tersebut. Para pelaku usaha kendaraan tua ini pun dituntut untuk lebih sabar dalam menanti calon pembeli yang tepat, mengingat segmen pasar sepeda motor antik sangat spesifik dan membutuhkan apresiasi khusus terhadap nilai sejarah kendaraan.


















