Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Per 30 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 5.057,05. Padahal, pada akhir kuartal III 2026, indeks masih berada di level 6.071,14.
Friderica menuturkan, pasar modal domestik sebenarnya sempat mengalami pemulihan secara bertahap pada kuartal III 2026 di tengah ketidakpastian global. IHSG menguat 7,58 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), didorong masuknya kembali dana asing ke pasar saham, terutama pada Juli dan Agustus.
“Hal ini menguat 7,58 persen quarter-to-quarter seiring kembali masuknya dana asing ke pasar saham domestik, terutama di Juli dan Agustus.
Namun demikian, sebagaimana kita semua ketahui, pada Oktober 2026, IHSG terkoreksi pasca pengumuman konsultan MSCI,” ujar Friderica saat konferensi pers KSSK di kantor BI, Jakarta, dikutip Rabu (4/11). Di tengah tekanan pasar saham, industri pengelolaan investasi masih menunjukkan kinerja relatif stabil.
Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp 640,05 triliun per 27 Oktober 2026, tumbuh 0,46 persen secara bulanan. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi di agenda OJK Digiclass Sekolah Rakyat di Pusdiklatbangprof Kementerian Sosial RI, Selasa (27/10/2026).
Friderica melanjutkan, minat korporasi domestik untuk menghimpun dana melalui pasar modal juga masih tinggi. Hingga 28 Oktober 2026, nilai penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 202,04 triliun.
Penghimpunan dana tersebut didominasi penerbitan efek bersifat utang dan sukuk senilai Rp 150,43 triliun. Di sisi lain, basis investor pasar modal terus bertambah.
Jumlah single investor identification (SID) mencapai 33,36 juta per 26 Oktober 2026, atau tumbuh 63,94 persen sejak awal tahun (year-to-date/ytd).













