Wartataindonesia.web.id, Jakarta – Kehadiran personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dalam pengamanan aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/6), menuai sorotan dari peserta aksi.
Sejumlah mahasiswa mengaku terkejut melihat banyaknya personel militer yang berjaga bersama aparat kepolisian di lokasi unjuk rasa.
Salah satu peserta aksi, Gifar, menilai kehadiran TNI dalam pengamanan demonstrasi sipil menimbulkan pertanyaan karena tugas utama militer berada di bidang pertahanan negara, bukan pengamanan aksi unjuk rasa.
“Selama ini saya ikut aksi biasanya cuma polisi. Ini sampai di sini banyak banget, malah kayaknya banyakan tentara daripada polisinya,” ujar Gifar di lokasi aksi.
Menurutnya, tidak ada tugas pokok TNI yang secara khusus mengatur pengamanan demonstrasi masyarakat sipil. Karena itu, kehadiran personel militer dalam jumlah besar dinilai tidak lazim dibanding aksi-aksi sebelumnya.
Pandangan serupa disampaikan peserta aksi lainnya, Dugi. Ia mengaku khawatir keberadaan tentara di sekitar lokasi demonstrasi dapat menimbulkan kesan intimidatif terhadap masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi.
“Saya melihatnya jadi seperti intimidasi. Kita mau ditakut-takutin bahwasannya hari ini tidak hanya polisi tetapi juga tentara turun langsung,” katanya.
Mahasiswa juga mempertanyakan keputusan aparat yang membatasi pergerakan massa menuju Bundaran HI.
Sebelumnya, ratusan mahasiswa Universitas Indonesia berjalan kaki dari kawasan Semanggi setelah kendaraan yang mereka tumpangi tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke titik aksi.
Namun saat tiba di sekitar Menara BCA, Jalan Jenderal Sudirman, massa dihadang barikade aparat kepolisian yang menutup akses menuju Bundaran HI. Puluhan personel TNI terlihat berjaga di belakang barisan polisi yang menghalangi laju peserta aksi.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung sempat berdialog dengan perwakilan mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa meminta izin untuk melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI, namun aparat hanya mengizinkan massa berunjuk rasa di titik tempat mereka tertahan.
“Bisa sampai di dekat sini saja. Dekat sini, sini saja,” ujar Reynold kepada perwakilan mahasiswa.
Penolakan tersebut memicu ketegangan di lapangan. Sempat terjadi aksi saling dorong antara sebagian mahasiswa dan aparat. Massa juga beberapa kali meneriakkan tuntutan agar barikade dibuka serta menyerukan kritik terhadap keterlibatan militer dalam pengamanan demonstrasi.
Hingga sore hari, ratusan mahasiswa masih bertahan di lokasi sambil melanjutkan orasi dan menunggu akses menuju Bundaran HI dibuka oleh aparat keamanan.


















